Jumat, 26 Agustus 2016

Potongan Kata #6


"Apakah nanti tidak akan dikatakan skripsi saya mirip slogan sosial ?. Bahkan politik ?"
.
"Mungkin ya. Tetapi saya bilang jalan terus. Saya akan membelamu sekuat tenaga karena saya senang akan semangat yang ada di otakmu. Keterpihakanmu kepada masyarakat penyadap, saya kira, merupakan manifestasi perasaan utang budi dan terimakasihmu kepada mereka yang telah sekian lama memberikan subsidi kepadamu. Ini bukan sebuah dosa ilmiah. 
Jat, kamu tahu, sudah terlalu banyak kaum sarjana seperti kita yang telah kehilangan rasa terimakasih kepada "ibu" yang membesarkan kita. Mungkin karena, ya itu, mereka seperti kamu, takut dibilang sok moralis. Mereka lebih suka memilih hanyut dalam arus kecenderungan pragmatis. Agaknya mereka lupa bahwa dari segi-segi tertentu pragmatisme menjadi benar-benat muncul. Jadi mereka jadi amoral karena takut dibilang moralis."
.
.
.
-Pak Jirem, dosen pembimbing skripsi Kanjat ; 
dalam buku Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari

Potongan Kata #5


Mungkin engkau adalah priyayi modern yang makin pintar menenggelamkan tetanggamu berkat meningkatnya kemampuanmu merumuskan. Mungkin engkau adalah pemikir yang berkecipak-cipuk dengan merumuskan sajam.
-
 Mungkin engkau sekedad satu dari setumpukan ikan yang menggelepar-gelepar dalam jalan. Mungkin engkau perumus yang baik, tetapi tak kenal, hingga engkau tenggelam.
-
Mungkin engkau pencipta cita-cita perubahan, bahkan pekerja perubahan, tapi engkau tidak kebal hingga engkau menjadi lintah di tubuh nasib orang yang engkau ubah. Setidaknya engkau meminum sumbangan darah yang dijatagkan buat infus nasib darurat bejuta saudaramu.
-
Pak Guru Danar dan Pak Guru Amrul bersepakat dalam satu hal ; kekebalan, misalnya, tidak minum air di gelas yang secara struktural merupakan hak orang lain yang tidak kita kenali namanya []
.
.
.
Petikan Kolom 'Empat Kapasitas'
"Kolom Slilit Sang Kiai" oleh Emha Ainun Nadjib
.

Potongan Kata #4



Kemudian dibawanya anak kecil itu ke runah yang terdekat letaknya dari kuburan. Tidak lama kemudian datanglah beberapa orang mengambil mayat itu untuk disucikan.
.
"Semua manusia bersaudara satu sama lain, " pikirnya setelah kuburan itu sunyi-senyap kembali.
.
"Karena itu tiap orang membutuhkan pertolongan harus memperoleh pertolongan. Tiap orang keluar dari satu turunan," pikirnya terus, " karena itu satu sama lain adalah saudara."
.
.
-Wedawati, Anak Mpu Barada 
dalam Dongeng Cerita Calon Arang - 
Gubahan Cerita oleh Pramoedya Ananta Toer

MENGULAS BUKU - Perempuan Bernama Arjuna - Remy Sylado

.

Judul : Perempuan Bernama Arjuna ; Filsafat dalam Fiksi
Penulis : Remy Sylado
Penerbit : Nuansa Cendekia
.
.
        “Namun, dari kata-kata yang tidak saya mengerti keluar dari mulut manusia, saya yakin adanya makna di dalamnya, dan dengan begitu saya terus belajar lebih dalam, memahami apa hubungan bahasa dengan filsafat yang selama itu sudah saya pelajari,” (Hal 11)

         Sebuah novel dengan stempel cover  ‘bukan bacaan ringan’ telah nampak  menjelaskan dirinya sejak dari halaman pertama. Menceritakan seorang mahasiswi asal Indonesia dengan latar belakang kebhinekaan-ayah Tionghoa, ibu Jawa-menjalani studi filsafat di Belanda. Membawa pembaca masuk menelusuri jejak-jejak pemikiran para filsuf dari era Yunani kuno, awal dan setelah tarikh masehi, hingga sampai pada abad 20.
.
         Setiap dari mereka, oleh Arjuna- si mahasiswi, tokoh utama-beserta teman-teman satu kelas dan dosen. Dikenalkan karya-karya besarnya, latarbelakang pemikiran, sampai kehidupan pribadi beberapa filsuf. Tidak berlebihan kiranya, jika buku ini  mendapat label ‘pengantar ilmu filsafat bagi awam’. Oleh karenanya, bagi pembaca-anak muda khususnya-jangan dulu ambil pusing. Seperti halnya karya fiksi, pun buku ini demikian.
.
         Penulis, seorang seniman tulen, dikenal luas oleh khalayak, Remy Sylado-nama asli Yapi Tambayong- menyelipkan beragam bahasa khas-etnik dan negara lain, menjadikan buku begitu segar. Diskusi tentang Tuhan, perdebatan arif cendekia, multi budaya, romantisme, dan seks digodok oleh penulis lewat ciamiknya penuturan kata-kalimat-tulisan sebuah cerita menjadi berwarna-warni. Selamat membaca karya fiksi bermutu.
.

        “Menerangkan cinta dalam pengetahuan apologia agaknya bisa di bilang jelimet, sebab ini terlalu muluk untuk disebut makrifat, tapi juga terlalu sepele untuk disebut rasam. Padahal cinta itu suatu keindahan yang tiada terperi. Tidak ada persamaan arti, baik dalam nomina, adjektiva, maupun adverbia, yang melebihi keindahan cinta-karenanya harus diucapkan dengan tulus, dengan jujur, dengan bebas, lewat jalinan subjek-predikat-objek. Bahwa dalam “aku cinta kau” niscaya ada “kau cinta aku”. (Hal 206)
.
.

Kamis, 11 Agustus 2016

MENGULAS BUKU - Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir

.
Buku : Saya Ingin Lihat Ini Semua Berakhir : 
          Esei dan Wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer
Penulis : August Han den Boef dan Kees Snoek
Penerbit : Komunitas Bambu
.
.
“Perkembangan yang ideal hanya akan tercapai melalui demokrasi. Tak ada jalan lain daripada memungkinkan setiap manusia untuk menggunakan hak-hak nya” [Hal-173]
.

Bagi mereka para pengaggum karya roman Indonesia tentunya telah kenal oleh Pramoedya Ananta Toer-Pram. Sastrawan besar Indonesia yang banyak dari karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Tak heran bila namanya berulang kali disebut pantas untuk mendapatkan Nobel Sastra. Setelah orde baru tumbang, karya-karya epik, kuat, namun tidak menghilangkan unsur-unsur estetis sebuah sastra tulisan Pramoedya lebih “bebas” didistribusikan.
.
Buku ini, menjelaskan bagaimana seorang Pram terbentuk. Mulai dari masa-masa kecil, remaja, masa penahanan yang amat melelahkan hingga tiba di penghujung abad 20 beliau bisa nyaman menikmati hari-hari depanya. Ditulis oleh dua orang warga kenegaraan Belanda, akademisi di bidang sastra dan tentunya menaruh perhatian besar terhadap karya Pram. Tulisan dalam buku ini diterbitkan pertama kali dalam bahasa Belanda ditahun 1990-an masa dimana Pram terkena tahanan rumah oleh Orde Baru. Oleh komunitas bambu tahun 2008.
.
Bagian pertama buku ditulis oleh August den Boef, merupakan Esai tentang karya-karya Pram dari masa pertama ia meluncurkan bukunya. Analisis yang dituangkan,  lengkap dibumbui oleh latarbelakang kehidupan Pram dan sejarah Indonesia amat besar pengaruhya dalam cerita-cerita Pram. Bagian kedua ditulis Kees Snoek, hasil wawancara beliau dengan Pram tahun 1991. Pertanyaan yang dilontarkan, dijawab secara tegas dan tanpa kompromi oleh Pram. Bagaimana perjalanan hidupnya yang melelahkan-terlebih saat ia dipenjara dalam berbagai rezim. Juga perhatianya terhadap humanisme dan  Indonesia, negeri yang amat ia cintai, menggetarkan sekaligus mengharukan. Meski kini Pram telah tiada, karya-karyanya tetap hidup, selamat membaca.
.

“Saya berharap bahwa pembaca-pembaca di Indonesia, setelah membaca buku saya, merasa berani, merasa dikuatkan. Dan kalau ini terjadi, saya menganggap tulisan saya berhasil. Itu adalah suatu kehormatan bagi seorang pengarang, terutama bagi saya. Lebih berani. Berani. Lebih berani”[Hal 172]
.
.
Mari membaca, selamat membaca !

MENGULAS BUKU - Senyum Karyamin - Ahmad Tohari


.
Buku : Senyum Karyamin ; Kumpulan Cerpen
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
.
.
“Priyayi zaman dulu kan bekerja dan mengabdi kepada kaum penjajah, bukan bekerja dan mengabdi kepada kaum  kawula seperti kita ini. Mereka bersikap ningrat, maunya dilayani. Mereka menjunjung atasan dan tak mau mengerti tangise wong cilik ” (Hal 41 ; Syukuran Sutabawor).
.
Kumpulan cerita pendek karya Ahmad Tohari ini pertama kali diterbitkan tahun 1989. Ditulis antara tahun 1976 hingga 1986, mengisahkan kehidupan masyarakat desa beserta rutinitas keseharianya. Kisah alami manusia khas pedesaan yang selalu menjadi menarik ketika Ahmad Tohari angkat kepada pembaca. Latar bumi desa begitu elok dilukiskan oleh penulis. Hal yang mungkin selalu dirindukan para pengembara desa yang menetap di kota-kota besar.
.
Kisah wong cilik-menjadi sentral-luput dari pengamatan kita, dengan cerdas dibawakan. Menyoal tutur penulisan, Sapardi D. Damono, dalam kata penutupnya menyampaikan bahwa “Tohari banyak mendongeng ; begitulah cara terbaiknya.” Dengan begitu, pembaca diajak untuk menelaah sendiri kedalaman cerita sederhana para tokoh-tokoh dalam alur yang mengalir.
.
Menjadi penting karya Ahmad Tohari bisa selalu tampil di publik agar pembaca kembali mengenal Indonesia yang begitu sederhana. Tokoh-tokoh rekaan dalam kumcer ini, menunjukan demikian. Membawa kita untuk masuk kedalam wajah Indonesia yang bukan kota, wajah yang sebenar-benarnya. Agaknya, perlu kita cermati, tema-tema lokalitas macam Ahmad Tohari mulai “langka”.
.
.
Mari membaca, selamat membaca !













MENGULAS BUKU- 99 untuk Tuhanku- Emha Ainun Nadjib

.
Buku : 99 Untuk Tuhanku
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Bentang Pustaka
.
.
“Tuhanku
sungguh ganjil
bagaimana bisa sekian lama
aku tergiur
oleh yang bukan Engkau
bagaimana bisa
aku tergoda
oleh yang seolah-olah saja ada.” (Ayat 29)
.
.
        Buku puisi ini diterbitkan pertama kali tahun 1980, saat usia Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) masih terbilang muda, 27 tahun. Kedalaman kata dan kepasrahan diri larut dalam kecintaan utuh terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Demikian buku puisi ini membawa kita untuk terus merefleksikan dan memaknai hidup, sebagai sebuah proses nyata seutuhnya penghambaan kepada Tuhan.
.
      Cak Nun-setidaknya bagi saya-mengajak pembaca untuk berdoa bersama bait kata satu ke bait kata lainya, terbaris dalam buku ini. Sebagai pengantar buku, Cak Nun menulis ; “Ini “hanya” suatu sembahyang sederhana ; usaha untuk merebu diriku sendiri dari tengah cengkeraman kehidupan, kebudayaan, peradaban, politik, ekonomi, persaingan kalah-menang serta berbagai macam kecenderungan yang kulihat makin kurang memberikan dan mengarahkan dirinya kepada Allah.”
.
        Agaknya pembaca muda bisa sadari-begitupun saya-bahwa diusia semuda itu (27 tahun), tidak bermaksud melebihkan/mengurangi. Cak Nun telah menunjukan seorang muda pun telah mampu memaknai dirinya sendiri, yang begitu kecil diantara rupa semesta ciptaan Tuhan dalam sebuah karya. Hal demikian, amat patut dicontoh, setidaknya dalam berkarya tidak hanya bagi diri sendiri, juga bagi orang lain. Maka tidak salah jika penerbitan kembali buku ini diharapkan mampu “hadir” untuk kaum muda generasi sekarang. Sebuah karya yang “harus” dibaca. Semoga kita sependapat. Wassalam. 
.
.
Mari membaca, selamat membaca !

Minggu, 07 Agustus 2016

Patah

Kaleng rongsok menjadi saksi
jari-jari penyendiri
di bumi pertiwi.

Botol bekas menjadi benalu
tubuh langit si ibu
dan air mata mengucur membasahi baju

Bumi pertiwi patah 
bumi pertiwi tinggal tanah
air tlah dikuasai penjarah
anaknya diam sambil memakan darah

Mereka patah,
bumi patah.
.
.
Sokaraja
Agustus 2016

Potongan Kata #3


Kalau seorang direktur perusahaan tahu bahwa lima juta rupiah gajinya setiap bulan tidak seluruhnya merupakan hak miliknya, sehingga sebagian gaji itu diserahkan kepada kaum yang meng-hak-inya, pasti itu bukan jaminan bahwa kemiskinan akan lenyap dari muka bumi. Tetapi, dia dengan demikian telah menjalankan kerangka duniawi-ukhrawi-perniagaan dengan dan di dalam Allah.
.
Dia lebih tinggi dari tingkat "ana insan" (aku manusia) dan "ana abdullah"(aku hamba Allah) : dia Khalifatullah (bersikap demokratis terhadap seluruh anggota alam, seluruh hamba Allah ; sesama manusia, tanah tambang, kayu Kalimantan, orang utan, dll)
.
.
Kutipan Kolom 'Berniaga dengan dan dalam Allah'

MENGULAS BUKU - Doa Untuk Anak Cucu - WS Rendra

.
Judul : Doa Untuk Anak Cucu
Penulis : W.S. Rendra
Diterbitkan : PT. Bentang Pustaka
.
.
“Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu.
Agama adalah kemah para pengembara.
Menggema beragam doa dan puja.
Arti yang sama dalam bahasa-bahasa berbeda.”
( Hal 3- Kutipan Puisi Gumamku, ya Allah)
.

W.S. Rendra, penyair organik milik Indonesia, telah melewati masa panjang dalam pergulatanya dengan dunia kesusasteraan tanah air. Mendayagunakan kata-kata untuk kemudian membahasakan seisi gejolak dan rutinitas manusia. Puisi ia bentuk tidak hanya berbicara soal keindahan , tapi lebih dari itu. Puisi dan sajak mampu meledak-ledak, berani dan berjuang, tercermin pada karyanya yang lahir saat era Orde Baru lalu.
.
Editor diawal mencatat bahwa terdapat 12 buku kumpulan puisi karangan W.S. Rendra selama ia masih hidup. Buku “doa untuk anak cucu” tidak termasuk kedalamnya karena terbit setelah beliau meninggal. Hingga akhir hayatnya seorang W.S. Rendra tetap menulis puisi, sebuah bentuk totalitas manusia dalam berkarya di sepanjang hidupnya.
Oleh karenanya, judul buku yang disematkan adalah amat tepat karena pun isinya amatlah menggugah jiwa kita. Sebuah pesan yang diharapkan seorang penulis kepada pembacanya, kepada masa-masa setelah ia tak ada.  Dilengkapi oleh catatan perjalanan pembuatan buku serta biografi seorang W.S Rendra yang ditulis editor. Semoga karya dan pemikiran W.S. Rendra tetap abadi. Lewat semua puisi yang ia tulis, W.S. Rendra tak segan-segan berucap bahwa “puisiku adalah sujudku”. 
 .
“Aku ingin kembali ke jalan alam.
Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah.
Tuhan, aku cinta pada-Mu”
(Hal 61-Kutipan Puisi Tuhan, Aku Cinta pada-Mu)
.
.
Mari membaca, selamat membaca !



Rabu, 20 Juli 2016

Potongan Kata #2

Namun, kala kucari dalam kesunyian, aku mendengar jiwaku berbisik ke telingaku, sambil berkata, " Kebahagiaan itu seorang anak yang dilahirkan dan dibawa ke kehidupan di dalam rwlung kalbu ; dia bukan berasal dari ketiadaan.
.
Dan, kala kubuka hatiku demi melihat kebahagiaan, di sana kutemukan cermin dan ranjang serta busana. Dirinya sendiri tak kutemukan.
.
Aku telah mecintai semua orang, banyak sudah aku mecintai mereka. Dalam pandanganku ada tiga jenis manusia. Seseorang yang mengutuk kehidupan ; seseorang yang memberkati ; seseorang yang merenungi. Pertama, aku mecintai karena keputusasaan ; kedua, karena kedermawanan ; ketiga, karena pengertian.
.
.
Kutipan Prosa "Hari Kelahiran"
Kumpulan Prosa Air Mata dan Senyuman
Karya Kahlil Gibran  


.

Minggu, 26 Juni 2016

Potongan Kata #1






Orang-orang memandangnya dengan iba.
"Ia cantik, kan ?" tanya Dewi Ayu.
"Ehm, yah."
.
" Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi-bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin."
.


Menyemai potongan kata

     Selama kurang lebih 23 tahun hidup saya, aktivitas membaca buku menjadi pilihan kesekian dalam mengisi keseharian. Apalagi, aktivitas membaca bagi anak muda abad-21 yang hacep, sudah jadi agenda purba dan bukan kekinian. Beruntung, aroma-aroma sedap dari membaca kembali datang, mengusik telinga dan menjewer pikiran saya dalam beberapa tahun terakhir. Sekedar hobi membaca manga karena ia bergambar, pada awalnya. Entah bagaimana, merajut potongan-potongan ruang dan bentuk imaginer produksi pikiran saya. Lalu membulat dan tersusun menjadi rumah-rumah kecil dengan pertanyaanya masing-masing.
.
     Rasa ingin tahu sisi lain dari lainya dan lainya lagi dan lainya lainya lagi. Aroma rasa ingin tahu itu timbul tenggelam, meskipun jauh sebelumnya sudah ada jawabnya ; bacalah. Kenikmatan membaca, tumpah dari kata-kata, membanjiri kekosongan gang-gang sempit di seputaran pemikiran saya dan berulang-ulang seperti itu seterusnya. Untuk kemudian diteruskan lewat penuturan, keyakinan, dan perbuatan dengan tentunya tubrukan-tumbukan-penghancuran apa yang orang bilang dengan "kehendak untuk benar" sendiri. Dan ikhtiar itu, seharusnya-semestinya-selayaknya tidak pernah berhenti dan membuat puas diri.
.
     Apa yang saya rasa-pikiran pun ikut andil tentunya-semoga bisa mengisi kekosongan gang-gang sempit kita, saya dan kawan-kawan sekalian. Agar bersedia, dilewati oleh kaki-kaki yang lebih banyak lagi, bukan hanya kaki kita. Untuk itu, dimulai dari malam ini, untuk sekedarnya saja mengutip potongan-potongan kata dari buku yang saya baca. Baik karya fiksi maupun non-fiksi, sehingga kata itu tidak mati, tersemai di ladang-ladang yang lain, tumbuh di gang-gang yang sempit. Setelahnya, kembali disemai oleh yang lain, dan terus berulang. 
.
Semoga apa yang disemai, dapat dipetik tidak hanya oleh diri sendiri, tetapi juga tetangga-tetangga lain di sebelah rumah, di sebelahnya lagi dan disebelah sebelah sebelahnya lagi. Semesta berbicara, lalu bertindak kembali untuk semesta. Aminn 
.
.
Salam.
Sokaraja Juni 2016

Kamis, 16 Juni 2016

MENGULAS BUKU - Bukan Pasar Malam - Pramoedya Ananta Toer

.
Judul Buku : Bukan Pasar Malam
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
.
            “Dulu kita selalu senang saja, karena, karena waktu itu kita masih kecil-kecil. Dan kini, Adikku, kini terasa betul oleh kita, pahit sungguh hidup di dunia ini, bila kita selalu ingat pada kejahatan orang lain. Tapi untuk kita sendiri, Adikku, bukankah kita tidak perlu menjahati orang lain ?” [hal 62]
.
            Roman Pramoedya Ananta Toer-Pram-yang satu ini pertama kali terbit jauh dari umur kita-kita sekarang, tahun 1954. Berlatarbelakang cerita masa revolusi Indonesia seperti halnya bisa kita lihat pada karya Pram lainya.  Alur cerita sederhana Pram suguhkan, dengan sedikit “meninggalkan” gaya realisme seorang Pram. Meski begitu, tetaplah mempesona ; sarat makna religuitas ; hasil refleksi diri si tokoh “aku”. Dan para tokoh lainya, diselimuti lika-liku kehidupan masyarakat Indonesia di awal kemerdekaan.
.
            Tokoh “aku”, berpulang ke tanah kelahiranya, sebuah desa di Blora-tempat Pram juga lahir-menjenguk ayahnya. Tokoh ayah, telah dekat dengan kematian karena sakit yang  ia derita.  Seorang nasionalis sejati, seorang guru yang meski harus merelakan dirinya bekerja pada Belanda. Tetap setia pada cita-cita kemerdekaan Republik, dengan segala konsekuensi yang ada. Dan “aku”, pemuda yang hidupnya juga berliku, turut serta dalam pasukan Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari Belanda, merasai betul apa yang ayahnya rasakan.
.
            Kisah yang dituangkan, asumsi saya, apa yang ditulis dalam Bukan Pasar Malam. Sedikit banyak adalah kisah hidup seorang Pram dalam kehidupan nyata. Seperti beliau pernah sampaikan pada sesi wawancara dengan Kness Snoek [terbitan Komunitas Bambu]. Bahwa ayahnya adalah seorang guru HIS-sekolah Belanda-,  kemudian beralih menjadi guru sekolah pergerakan Budi Utomo dan juga seorang pemimpin Partai Nasional Indonesia. 
.
Dan Pram sendiri, juga pernah terlibat dalam mempertahankan kemerdekaan dari aksi polisionil Belanda. Beruntunglah kita, hingga hari ini beberapa karya Pram bisa kita baca, karena tidak sedikit juga telah dirampas, baik oleh Belanda maupun rezim Orde Baru. Selamat membaca karya sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.
.
.
Mari membaca, selamat membaca !


Minggu, 01 Mei 2016

Matinya Candu



Aspal-aspal jalan terkuliti oleh hujan dan tangisan
Kelam dan biru wajahnya
Hujan membawa pulang kekejaman manusia
Kembali ke perut bumi

Berharap tak mekar lagi
Tak tumbuh lagi
Tak berbuah lagi

Jalanan basah oleh sumpah serapah
Janji terkurung jeruji kemilau duniawi
Rindu ditelan malam tanpa mimpi
Menjadi mati suri
Entah kapan bangkit dari telaga kesunyian
Karena yang hidup pun demikian penuh kegelapan

Aliran darah tersumbat kekecewaan
Tak mengalir lagi nafasnya
Jantung tak bekerja
Otak binasa
Kesadaran tertikam 
Kematian menjelang
Jarum Suntik melayang-layang
Menari dan terbang
Membawa mayat-mayat tenggelam

Ia hilang
Ia terlupakan
Sempurnalah kematian seorang pencandu
Tak tahu apa yang amat ia begitu mau
Karena hidup lelah memberinya waktu
Hingga akhirnya
Terbujur kaku
.
.
.
Sokaraja ;
24 April 2016
Nb : malam-malam hujan

Masa Lalu Kawanku


Aku dan kekasihku sang putri malam
Tersedu melihat masa lalu kawanku

Dirinya mengaku sebagai pelarian penjara
Dari rindu yang meninggalkan ranumnya cinta

Tepat di atas langit-langit kamar
Tak pernah pergi
Enggan menjauhi diri

Empat tahun berlalu dan rindu masih saja menggebu
Senapas seirama sebelumnya
Suka dan duka jadi selimut berdua
Kemudian sang perempuan hilang ditelan gusar

Dan sialnya, meski sang perempuan telah tinggal di genggaman jemari lain
Bayangnya masih saja ada
Tak terhapus oleh debu-debu waktu

Kawanku lalu bertanya kepada putri malam disampingku ;
"Kemana aku harus meminjam belati ?. Untuk
menghunus rindu ini agar ia mati dan terkubur tak bangkit lagi"

Sang putri malam menjawab ; 
"Kau tak bisa bunuh rindu. Ia tumbuh oleh waktu yang lalu, yang pernah kau berikan sebagai kado terindah dalam hidupnya. Relakan rindu mencabikmu, ia akan membuatmu semakin tegar."

Kawanku berbalik ;
"Lantas bagaimana lagi aku harus hidup jikalau cabikan itu membuat ku serasa tak punya nyawa lagi ?."

Aku menyela ;
"Temukan rindumu yang lain. Seperti rindu yg kini bergelantung dihadapanmu. Langit perlahan akan menjadikan kalian sahabat erat di perjalanan hari esok. Rindumu yang baru, biarkan temukan jalanya masuk kedalam mimpi disetiap malam. Malam milikmu"
.
.
.
Bangku sekre
18 April 2016

Makan siang




Berselimut macam-macam rempah.
Kuah nan merona
merayu lidah.

Gurih nan ayu menunggu dimadu. Manis dan harum berpadu syahdu meramu nafsu. Restoran dipenuhi gelora asmara. Hidangan tersaji bersama lilin yang menari. Serupa sesajen bagi ruh leluhur dan para dewa-dewi.

Tak sabar tangan bergerayang dan meliuk melintasi meja makan.
Memuaskan lapar dan kecewa karena cinta. 

Siang terik menambah panas suasana.
Angin tak bertiup.
Lelaki tua terduduk meringkuk,
di beranda restoran milik paman Jawa.

Santapan telah habis
Pundi-pundi berayun pindah tuan
Tertawa dan bangga membayar semuanya ;
Katanya syukuran kerja

Lalu mereka pergi kepada kuda pribadi
Melangkahi mayat lelaki tua tanpa busana
.
.
.
Sokaraja ;
25 April 
Nb : di seberang pelataran  rumah padang

Hujan akhir april


 



Didepanku bangku kosong terbujur kaku dan kuyu
Disampingku dua perempuan muda bersenda gurau tentang hidupnya yang sederhana.
Sementara aku terdiam tak tahu harus apa ; Lantas kupilih pandangi saja wajah hujan di depan langit mataku

Ia datang membawa aroma bulan Mei
Ia pun memikul akhir angin muson timur

Aku memandang malu hujan akhir april
Ia tak sekedar air  membentuk cermin diatas bumi
Ia tak sekedar jatuh tanpa membawa berkah
Ia hadir dengan kesungguhan menyirami kerontang sawah
Bersama kilau cepat cahaya
Sesekali hadir menyapa telinga

Dan seperti hujan-hujan sebelumnya
Pun hujan ini belum berubah wujudnya

Ia jujur
Ia ikhlas
Ia tak jumawa membawa remah-remah surgawi bagi seisi gersang bumi

Ia masih sama....
Ia tak membawa duka...
Aku yang berduka
Manusia yang membuat duka
.
.
Depan sekre
27 April 2016
Nb : menikmati hujan 





Dan Hujan Datang



Dan hujan datang tepat waktu
Menjelang senja tanpa dosa 

Dan hujan datang membasahi genting perapian
Memendam rindu, tak jua bertemu

Dan hujan datang mengucurkan tetes keresahan
Menoleh ke belakang tempat sukma bersandar


Dan hujan tidak pernah ingkar ;
Begitupun Ia telah memadamkan asap
menceraikan debu
mengetuk talang-talang kosong
hingga tiba ke gersangnya bumi.

Hujan tetap penuhi janjinya kepadaku ;
Ia datang dan berpesan :
"Kau dan sang waktu, tak boleh berkelahi. 
Tentang tempat dan kapan sepakatnya diberi restu bertemu kembali"

Dan aku membayang ;
Saat hujan datang
atau saat hujan menghilang
berganti pelangi
di layar petang menjelang malam
.
.
Sokaraja
24 April 2016


Sedalam-dalamnya

Nadya,
Manusia amatlah penuh rupa
Satu agaknya sama, ingin peluk bahagia sederhana
Bersama mereka yang dicinta, saling bertukar doa
Merapal mantra eloknya masa tua

Ditebak akan jauh
Mereka pun menghitung demikian
Entah dimana ia akan berlabuh

Sampai pada suatu ketika di desa seberang
Dalam mata yang teduh, dalam  rima cerita
jujur menyapa
Dalam merekahnya senyum, dalam cemberut
merangkai gelak tawa

Sedalam-dalamnya dari dirimu
Sedalam-dalamnya waktu yang berlalu
Lekas raih impianmu
Bagimu, bagi keluargamu, bagi semesta manusia

Nadya,
Bila nanti wujudnya hilang
Ingatlah ia dalam sajak ini.
Sedalam-dalamnya rasa terimakasih
atas kesedianmu duduk disampingnya.


 


Purwokerto,
12 Oktober 2016


*Gambar dari forums.crackberry.com