Minggu, 26 Juni 2016
Menyemai potongan kata
Selama kurang lebih 23 tahun hidup saya, aktivitas membaca buku menjadi pilihan kesekian dalam mengisi keseharian. Apalagi, aktivitas membaca bagi anak muda abad-21 yang hacep, sudah jadi agenda purba dan bukan kekinian. Beruntung, aroma-aroma sedap dari membaca kembali datang, mengusik telinga dan menjewer pikiran saya dalam beberapa tahun terakhir. Sekedar hobi membaca manga karena ia bergambar, pada awalnya. Entah bagaimana, merajut potongan-potongan ruang dan bentuk imaginer produksi pikiran saya. Lalu membulat dan tersusun menjadi rumah-rumah kecil dengan pertanyaanya masing-masing.
.
Rasa ingin tahu sisi lain dari lainya dan lainya lagi dan lainya lainya lagi. Aroma rasa ingin tahu itu timbul tenggelam, meskipun jauh sebelumnya sudah ada jawabnya ; bacalah. Kenikmatan membaca, tumpah dari kata-kata, membanjiri kekosongan gang-gang sempit di seputaran pemikiran saya dan berulang-ulang seperti itu seterusnya. Untuk kemudian diteruskan lewat penuturan, keyakinan, dan perbuatan dengan tentunya tubrukan-tumbukan-penghancuran apa yang orang bilang dengan "kehendak untuk benar" sendiri. Dan ikhtiar itu, seharusnya-semestinya-selayaknya tidak pernah berhenti dan membuat puas diri.
.
Apa yang saya rasa-pikiran pun ikut andil tentunya-semoga bisa mengisi kekosongan gang-gang sempit kita, saya dan kawan-kawan sekalian. Agar bersedia, dilewati oleh kaki-kaki yang lebih banyak lagi, bukan hanya kaki kita. Untuk itu, dimulai dari malam ini, untuk sekedarnya saja mengutip potongan-potongan kata dari buku yang saya baca. Baik karya fiksi maupun non-fiksi, sehingga kata itu tidak mati, tersemai di ladang-ladang yang lain, tumbuh di gang-gang yang sempit. Setelahnya, kembali disemai oleh yang lain, dan terus berulang.
.
Semoga apa yang disemai, dapat dipetik tidak hanya oleh diri sendiri, tetapi juga tetangga-tetangga lain di sebelah rumah, di sebelahnya lagi dan disebelah sebelah sebelahnya lagi. Semesta berbicara, lalu bertindak kembali untuk semesta. Aminn
.
.
Salam.
Sokaraja Juni 2016
.
Rasa ingin tahu sisi lain dari lainya dan lainya lagi dan lainya lainya lagi. Aroma rasa ingin tahu itu timbul tenggelam, meskipun jauh sebelumnya sudah ada jawabnya ; bacalah. Kenikmatan membaca, tumpah dari kata-kata, membanjiri kekosongan gang-gang sempit di seputaran pemikiran saya dan berulang-ulang seperti itu seterusnya. Untuk kemudian diteruskan lewat penuturan, keyakinan, dan perbuatan dengan tentunya tubrukan-tumbukan-penghancuran apa yang orang bilang dengan "kehendak untuk benar" sendiri. Dan ikhtiar itu, seharusnya-semestinya-selayaknya tidak pernah berhenti dan membuat puas diri.
.
Apa yang saya rasa-pikiran pun ikut andil tentunya-semoga bisa mengisi kekosongan gang-gang sempit kita, saya dan kawan-kawan sekalian. Agar bersedia, dilewati oleh kaki-kaki yang lebih banyak lagi, bukan hanya kaki kita. Untuk itu, dimulai dari malam ini, untuk sekedarnya saja mengutip potongan-potongan kata dari buku yang saya baca. Baik karya fiksi maupun non-fiksi, sehingga kata itu tidak mati, tersemai di ladang-ladang yang lain, tumbuh di gang-gang yang sempit. Setelahnya, kembali disemai oleh yang lain, dan terus berulang.
.
Semoga apa yang disemai, dapat dipetik tidak hanya oleh diri sendiri, tetapi juga tetangga-tetangga lain di sebelah rumah, di sebelahnya lagi dan disebelah sebelah sebelahnya lagi. Semesta berbicara, lalu bertindak kembali untuk semesta. Aminn
.
.
Salam.
Sokaraja Juni 2016
Kamis, 16 Juni 2016
MENGULAS BUKU - Bukan Pasar Malam - Pramoedya Ananta Toer
.
Judul Buku : Bukan Pasar Malam
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
.
“Dulu kita selalu
senang saja, karena, karena waktu itu kita masih kecil-kecil. Dan kini, Adikku,
kini terasa betul oleh kita, pahit sungguh hidup di dunia ini, bila kita selalu
ingat pada kejahatan orang lain. Tapi untuk kita sendiri, Adikku, bukankah kita
tidak perlu menjahati orang lain ?” [hal 62]
.
Roman Pramoedya
Ananta Toer-Pram-yang satu ini pertama kali terbit jauh dari umur kita-kita
sekarang, tahun 1954. Berlatarbelakang cerita masa revolusi Indonesia seperti
halnya bisa kita lihat pada karya Pram lainya. Alur cerita sederhana Pram suguhkan, dengan
sedikit “meninggalkan” gaya realisme seorang Pram. Meski begitu, tetaplah
mempesona ; sarat makna religuitas ; hasil refleksi diri si tokoh “aku”. Dan
para tokoh lainya, diselimuti lika-liku kehidupan masyarakat Indonesia di awal
kemerdekaan.
.
Tokoh “aku”,
berpulang ke tanah kelahiranya, sebuah desa di Blora-tempat Pram juga
lahir-menjenguk ayahnya. Tokoh ayah, telah dekat dengan kematian karena sakit
yang ia derita. Seorang nasionalis sejati, seorang guru yang
meski harus merelakan dirinya bekerja pada Belanda. Tetap setia pada cita-cita
kemerdekaan Republik, dengan segala konsekuensi yang ada. Dan “aku”, pemuda
yang hidupnya juga berliku, turut serta dalam pasukan Indonesia mempertahankan
kemerdekaan dari Belanda, merasai betul apa yang ayahnya rasakan.
.
Kisah yang dituangkan,
asumsi saya, apa yang ditulis dalam Bukan
Pasar Malam. Sedikit banyak adalah kisah hidup seorang Pram dalam kehidupan
nyata. Seperti beliau pernah sampaikan pada sesi wawancara dengan Kness Snoek
[terbitan Komunitas Bambu]. Bahwa ayahnya adalah seorang guru HIS-sekolah
Belanda-, kemudian beralih menjadi guru
sekolah pergerakan Budi Utomo dan juga seorang pemimpin Partai Nasional
Indonesia.
.
Dan Pram sendiri, juga pernah terlibat dalam mempertahankan kemerdekaan
dari aksi polisionil Belanda. Beruntunglah kita, hingga hari ini beberapa karya
Pram bisa kita baca, karena tidak sedikit juga telah dirampas, baik oleh
Belanda maupun rezim Orde Baru. Selamat membaca karya sastrawan besar
Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.
.
.
Mari membaca, selamat membaca !
Minggu, 01 Mei 2016
Matinya Candu
Aspal-aspal jalan terkuliti oleh hujan dan tangisan
Kelam dan biru wajahnya
Hujan membawa pulang kekejaman manusia
Kembali ke perut bumi
Berharap tak mekar lagi
Tak tumbuh lagi
Tak berbuah lagi
Jalanan basah oleh sumpah serapah
Janji terkurung jeruji kemilau duniawi
Rindu ditelan malam tanpa mimpi
Menjadi mati suri
Entah kapan bangkit dari telaga kesunyian
Karena yang hidup pun demikian penuh kegelapan
Aliran darah tersumbat kekecewaan
Tak mengalir lagi nafasnya
Jantung tak bekerja
Otak binasa
Kesadaran tertikam
Kematian menjelang
Jarum Suntik melayang-layang
Menari dan terbang
Membawa mayat-mayat tenggelam
Ia hilang
Ia terlupakan
Sempurnalah kematian seorang pencandu
Tak tahu apa yang amat ia begitu mau
Karena hidup lelah memberinya waktu
Hingga akhirnya
Terbujur kaku
.
.
.
Sokaraja ;
24 April 2016
Nb : malam-malam hujan
Masa Lalu Kawanku
Aku dan kekasihku sang putri malam
Tersedu melihat masa lalu kawanku
Dirinya mengaku sebagai pelarian penjara
Dari rindu yang meninggalkan ranumnya cinta
Tepat di atas langit-langit kamar
Tak pernah pergi
Enggan menjauhi diri
Empat tahun berlalu dan rindu masih saja menggebu
Senapas seirama sebelumnya
Suka dan duka jadi selimut berdua
Kemudian sang perempuan hilang ditelan gusar
Dan sialnya, meski sang perempuan telah tinggal di genggaman jemari lain
Bayangnya masih saja ada
Tak terhapus oleh debu-debu waktu
Kawanku lalu bertanya kepada putri malam disampingku ;
"Kemana aku harus meminjam belati ?. Untuk
menghunus rindu ini agar ia mati dan terkubur tak bangkit lagi"
Sang putri malam menjawab ;
"Kau tak bisa bunuh rindu. Ia tumbuh oleh waktu yang lalu, yang pernah kau berikan sebagai kado terindah dalam hidupnya. Relakan rindu mencabikmu, ia akan membuatmu semakin tegar."
Kawanku berbalik ;
"Lantas bagaimana lagi aku harus hidup jikalau cabikan itu membuat ku serasa tak punya nyawa lagi ?."
Aku menyela ;
"Temukan rindumu yang lain. Seperti rindu yg kini bergelantung dihadapanmu. Langit perlahan akan menjadikan kalian sahabat erat di perjalanan hari esok. Rindumu yang baru, biarkan temukan jalanya masuk kedalam mimpi disetiap malam. Malam milikmu"
.
.
.
Bangku sekre
18 April 2016
Makan siang
Berselimut macam-macam rempah.
Kuah nan merona
merayu lidah.
Gurih nan ayu menunggu dimadu. Manis dan harum berpadu syahdu meramu nafsu. Restoran dipenuhi gelora asmara. Hidangan tersaji bersama lilin yang menari. Serupa sesajen bagi ruh leluhur dan para dewa-dewi.
Tak sabar tangan bergerayang dan meliuk melintasi meja makan.
Memuaskan lapar dan kecewa karena cinta.
Siang terik menambah panas suasana.
Angin tak bertiup.
Lelaki tua terduduk meringkuk,
di beranda restoran milik paman Jawa.
Santapan telah habis
Pundi-pundi berayun pindah tuan
Tertawa dan bangga membayar semuanya ;
Katanya syukuran kerja
Lalu mereka pergi kepada kuda pribadi
Melangkahi mayat lelaki tua tanpa busana
.
.
.
Sokaraja ;
25 April
Nb : di seberang pelataran rumah padang
Hujan akhir april
Didepanku bangku kosong terbujur kaku dan kuyu
Disampingku dua perempuan muda bersenda gurau tentang hidupnya yang sederhana.
Sementara aku terdiam tak tahu harus apa ; Lantas kupilih pandangi saja wajah hujan di depan langit mataku
Ia datang membawa aroma bulan Mei
Ia pun memikul akhir angin muson timur
Aku memandang malu hujan akhir april
Ia tak sekedar air membentuk cermin diatas bumi
Ia tak sekedar jatuh tanpa membawa berkah
Ia hadir dengan kesungguhan menyirami kerontang sawah
Bersama kilau cepat cahaya
Sesekali hadir menyapa telinga
Dan seperti hujan-hujan sebelumnya
Pun hujan ini belum berubah wujudnya
Ia jujur
Ia ikhlas
Ia tak jumawa membawa remah-remah surgawi bagi seisi gersang bumi
Ia masih sama....
Ia tak membawa duka...
Aku yang berduka
Manusia yang membuat duka
.
.
Depan sekre
27 April 2016
Nb : menikmati hujan
Dan Hujan Datang
Dan hujan datang tepat waktu
Menjelang senja tanpa dosa
Dan hujan datang membasahi genting perapian
Memendam rindu, tak jua bertemu
Dan hujan datang mengucurkan tetes keresahan
Menoleh ke belakang tempat sukma bersandar
Dan hujan tidak pernah ingkar ;
Begitupun Ia telah memadamkan asap
menceraikan debu
mengetuk talang-talang kosong
hingga tiba ke gersangnya bumi.
Hujan tetap penuhi janjinya kepadaku ;
Ia datang dan berpesan :
"Kau dan sang waktu, tak boleh berkelahi.
Tentang tempat dan kapan sepakatnya diberi restu bertemu kembali"
Dan aku membayang ;
Saat hujan datang
atau saat hujan menghilang
berganti pelangi
di layar petang menjelang malam
.
.
Sokaraja
24 April 2016
Sedalam-dalamnya
Nadya,
Manusia amatlah penuh rupa
Satu agaknya sama, ingin peluk bahagia sederhana
Bersama mereka yang dicinta, saling bertukar doa
Merapal mantra eloknya masa tua
Ditebak akan jauh
Mereka pun menghitung demikian
Entah dimana ia akan berlabuh
Sampai pada suatu ketika di desa seberang
Dalam mata yang teduh, dalam rima cerita
jujur menyapa
Dalam merekahnya senyum, dalam cemberut
merangkai gelak tawa
Sedalam-dalamnya dari dirimu
Sedalam-dalamnya waktu yang berlalu
Lekas raih impianmu
Bagimu, bagi keluargamu, bagi semesta manusia
Nadya,
Bila nanti wujudnya hilang
Ingatlah ia dalam sajak ini.
Sedalam-dalamnya rasa terimakasih
atas kesedianmu duduk disampingnya.
Purwokerto,
12 Oktober 2016
*Gambar dari forums.crackberry.com
Manusia amatlah penuh rupa
Satu agaknya sama, ingin peluk bahagia sederhana
Bersama mereka yang dicinta, saling bertukar doa
Merapal mantra eloknya masa tua
Ditebak akan jauh
Mereka pun menghitung demikian
Entah dimana ia akan berlabuh
Sampai pada suatu ketika di desa seberang
Dalam mata yang teduh, dalam rima cerita
jujur menyapa
Dalam merekahnya senyum, dalam cemberut
merangkai gelak tawa
Sedalam-dalamnya dari dirimu
Sedalam-dalamnya waktu yang berlalu
Lekas raih impianmu
Bagimu, bagi keluargamu, bagi semesta manusia
Nadya,
Bila nanti wujudnya hilang
Ingatlah ia dalam sajak ini.
Sedalam-dalamnya rasa terimakasih
atas kesedianmu duduk disampingnya.
Purwokerto,
12 Oktober 2016
*Gambar dari forums.crackberry.com
Minggu, 06 Maret 2016
Menulis rupa dunia
Pasar-pasar bersama
Kantor-kantor kotor
Sekolah-sekolah bocor
Kelas-kelas bertanya
Siapa mereka
Siapa kita
Lalu alam membawakan hidangan
kegembiraan bersoda kepedihan
senyum bertangkai duka
cinta berselimut noda
doa berlapis semena-mena
Bulan malam ini bersolek rupa
memantulkan cahaya dinding penjara
Bayang-bayang penyesalan tergambar jelas
berkawan durjana dan amarah
Salahkah aku menulis mereka ?.
Menulis yang nyata ada dihadapan,
tapi enggan di perhatikan ?.
Rupa dunia kita tak hanya rindu dan cemas akan cinta dua manusia.
Disana
mereka kelaparan
mereka berperang
mereka saling bertengkar
mereka pun sama merindukan cinta
percaya akan terlewati
percaya kuasa Tuhan akan ada batasnya
soal kesulitan dan kepedihan.
Sedangkan kita ?.
Tak peduli pada mereka,
tak peduli pada Tuhan.
Sokaraja
26 Januari 2016
---------------------------------
Semoga puisi ini bisa memberikan arti.
Maturnuwun..
*Gambar dari vk.com
Kantor-kantor kotor
Sekolah-sekolah bocor
Kelas-kelas bertanya
Siapa mereka
Siapa kita
Lalu alam membawakan hidangan
kegembiraan bersoda kepedihan
senyum bertangkai duka
cinta berselimut noda
doa berlapis semena-mena
Bulan malam ini bersolek rupa
memantulkan cahaya dinding penjara
Bayang-bayang penyesalan tergambar jelas
berkawan durjana dan amarah
Salahkah aku menulis mereka ?.
Menulis yang nyata ada dihadapan,
tapi enggan di perhatikan ?.
Rupa dunia kita tak hanya rindu dan cemas akan cinta dua manusia.
Disana
mereka kelaparan
mereka berperang
mereka saling bertengkar
mereka pun sama merindukan cinta
percaya akan terlewati
percaya kuasa Tuhan akan ada batasnya
soal kesulitan dan kepedihan.
Sedangkan kita ?.
Tak peduli pada mereka,
tak peduli pada Tuhan.
Sokaraja
26 Januari 2016
---------------------------------
Semoga puisi ini bisa memberikan arti.
Maturnuwun..
*Gambar dari vk.com
Gelap
Riak-riak cahaya tak percaya
berucap cinta tapi binasa
bukan karena diri sendiri
karena mata tanpa kata
dibiarkanya cerita-cerita menusuknya
lalu menusukku.
Awalnya ku tak peduli
tak ku percayai amarah dan duka.
Lantas setelah menempuh banyak dengki berbalut luka,
aku merasa kasihan kepada masa depanmu
mau bersentuhan rasa denganku
lelaki gelap dan batu.
Aku,
selalu saja begitu
berteman gelap tanpa boleh mengenal warna baru
barang sebentar bersamaku
saat bersama dirimu.
Purwokerto
22 Januari 2016
---------------------
Semoga puisi ini bisa memberikan arti
Maturnuwunn....
*Gambar dari earmilk.com
Jenuh Membunuh
Telah disadari waktu akan segera pergi
segera menghantam hati
menawan diri
memberikan dunia penuh caci
menawarkan rasa iri
yang akhirnya
membunuh kejantanan diri.
Jenuh ini membunuh
rasa percayaku
rasa mudaku
bahkan rasa cintaku
terhadap dunia diluar sana
dan bodohnya kepada bapak-ibuku juga.
Ditikamnya diriku
terbelenggu kenyamanan tanpa makna
tanpa mampu menancapkan kata.
Januh ini,
ialah kenyamanan itu.
Dibuainya banyak anak muda sepertiku
lalu pergi menemui malam.
Setelahnya tak berani berhadapan
oleh pagi yang begitu dalam.
Purwokerto,
23 Januari 2016
--------------------
Maturnuwunn
Semoga puisi ini bisa memberikan arti
*Gambar dari www.nubar.com
segera menghantam hati
menawan diri
memberikan dunia penuh caci
menawarkan rasa iri
yang akhirnya
membunuh kejantanan diri.
Jenuh ini membunuh
rasa percayaku
rasa mudaku
bahkan rasa cintaku
terhadap dunia diluar sana
dan bodohnya kepada bapak-ibuku juga.
Ditikamnya diriku
terbelenggu kenyamanan tanpa makna
tanpa mampu menancapkan kata.
Januh ini,
ialah kenyamanan itu.
Dibuainya banyak anak muda sepertiku
lalu pergi menemui malam.
Setelahnya tak berani berhadapan
oleh pagi yang begitu dalam.
Purwokerto,
23 Januari 2016
--------------------
Maturnuwunn
Semoga puisi ini bisa memberikan arti
*Gambar dari www.nubar.com
Manisnya Sore Itu
Keluar dari kelas penjara
Kembali saling merangkul mimpi
Mengombak bersama kawan seragam
Bergegas ke halte titik temu
Menyeruput kopi warung temaram
Asap rokok terus membumbung
Beruntung cahaya sore bersahabat
Tiada hujan deras membantai
Cericau sahabat hitam dimulai
Begini begitu raut kisah bercerita
Dari lucu hingga warna kelabu
Menambah lukisan sore yang hangat
Kata masih pada tempatnya
Hingga detik itu muncul
Mendadak lingkaran pecah terurai
Seragam ke satu sudut pandang
Lagu lama rupanya
Persis seperti kemari hari
Menggendong tas bercarik cantik
Berdiri anggun dengan rambut hitam
Berbeda dengan putri raja lainya
Ia terlihat tak pernah ragu
Berbarengan berjibaku
Di bis sekolah yang telah lusuh
Meski begitu kawan
Wajah manisnya tidak terhapus
Senyumnya renyah tak angkuh
Menombak kami yang kosong
Tak peduli detik sore
Kami mematung kompak
Namun teramat sayang
Hakim jalan amat cepat menunjuk
Rupa manis harus pergi
Tak ubahnya seperti sore ini
Harus segera berganti malam
Namun tiada sedih harus tenggelam
Kami harap cerita kan terulang
Tiap sore kini kami menunggu
Manisnya sore kami kembali datang
Duduk bersama kami yang buntu
-Jakarta Raya-
*Gambar dari flickr.com
Kembali saling merangkul mimpi
Mengombak bersama kawan seragam
Bergegas ke halte titik temu
Menyeruput kopi warung temaram
Asap rokok terus membumbung
Beruntung cahaya sore bersahabat
Tiada hujan deras membantai
Cericau sahabat hitam dimulai
Begini begitu raut kisah bercerita
Dari lucu hingga warna kelabu
Menambah lukisan sore yang hangat
Kata masih pada tempatnya
Hingga detik itu muncul
Mendadak lingkaran pecah terurai
Seragam ke satu sudut pandang
Lagu lama rupanya
Persis seperti kemari hari
Menggendong tas bercarik cantik
Berdiri anggun dengan rambut hitam
Berbeda dengan putri raja lainya
Ia terlihat tak pernah ragu
Berbarengan berjibaku
Di bis sekolah yang telah lusuh
Meski begitu kawan
Wajah manisnya tidak terhapus
Senyumnya renyah tak angkuh
Menombak kami yang kosong
Tak peduli detik sore
Kami mematung kompak
Namun teramat sayang
Hakim jalan amat cepat menunjuk
Rupa manis harus pergi
Tak ubahnya seperti sore ini
Harus segera berganti malam
Namun tiada sedih harus tenggelam
Kami harap cerita kan terulang
Tiap sore kini kami menunggu
Manisnya sore kami kembali datang
Duduk bersama kami yang buntu
-Jakarta Raya-
*Gambar dari flickr.com
Gila Jelita
Ia muda
berkacamata dengan lesung pipit mempesona
mungil layaknya boneka
halus bahasanya
santun dalam berkata pada siapa saja.
Tak berlebihan kami berlima panggil ia jelita
diantara kami aku yang paling gila
bukan sekedar basa-basi tanpa makna
hati jujur merasa karena ia nyata manusia
bukan malaikat elok rupa tanpa dosa.
Muda, beda, jelita
rajutan kain memintal anggun pesonanya
membalut kesucianya.
Aku menatap, engkau pun juga
mata ini tak ada maksud hendak menipu
mati rasa, sejak kau tatap balik padaku
ingin segera diriku
mengabadikan cintaku padamu
maka jelita
kemana engkau labuhkan kehidupanmu nanti ?
Purwokerto
20 Januari 2016
--------------------
*Gambar dari www.pinterest.com
berkacamata dengan lesung pipit mempesona
mungil layaknya boneka
halus bahasanya
santun dalam berkata pada siapa saja.
Tak berlebihan kami berlima panggil ia jelita
diantara kami aku yang paling gila
bukan sekedar basa-basi tanpa makna
hati jujur merasa karena ia nyata manusia
bukan malaikat elok rupa tanpa dosa.
Muda, beda, jelita
rajutan kain memintal anggun pesonanya
membalut kesucianya.
Aku menatap, engkau pun juga
mata ini tak ada maksud hendak menipu
mati rasa, sejak kau tatap balik padaku
ingin segera diriku
mengabadikan cintaku padamu
maka jelita
kemana engkau labuhkan kehidupanmu nanti ?
Purwokerto
20 Januari 2016
--------------------
*Gambar dari www.pinterest.com
Senyuman Malam
Hiasi merdu malam, senyuman itu tiba
Bersandar di angin redup, senyuman itu tiba
Sewaktu itu, raga tiada memang di sisi
Sewaktu itu, hadir tak bisa menemani
Di tepi beranda,
Terduduk mematung malam
Engkau terdiam
Membisu malam kesekian kalinya
Satu hal terlupa, tak ubahnya bayang
Rasa ini tiada kan berubah, berdua tetap bersama
Senyuman malam itu
Seolah bekal tamasya
Kugendong erat
Kuikat kain sutra
Tapi berbeda kini, senyuman malam itu tiada lagi
Senyuman malam itu telah pergi
Tiada kembali
......
Kaget ku di suatu waktu
Di malam yang buntu
Satu senyum menepuk kembali
Bahagia untukku entah dirinya
Pagar halaman menatap, dedaunan kuning bersiul
Debu lantai melotot, saling menatap terheran.
Sejak malam buntu.
Aku tahu
bersama senyum yang kembali
kebahagiaan terpancar
berganti senyum untuk ku.
Si senyuman malam
menunjukan senyumannya kembali.
Jelas bahagia untuk mu selalu
selamat jalan bagiku, selamat tinggal
Peluk bahagia, untukmu
Harap ku,
duhai engkau senyuman malam
Sokaraja,
6 Desember 2015
*Gambar dari horoscopes.lovetoknow.com
Bersandar di angin redup, senyuman itu tiba
Sewaktu itu, raga tiada memang di sisi
Sewaktu itu, hadir tak bisa menemani
Di tepi beranda,
Terduduk mematung malam
Engkau terdiam
Membisu malam kesekian kalinya
Satu hal terlupa, tak ubahnya bayang
Rasa ini tiada kan berubah, berdua tetap bersama
Senyuman malam itu
Seolah bekal tamasya
Kugendong erat
Kuikat kain sutra
Tapi berbeda kini, senyuman malam itu tiada lagi
Senyuman malam itu telah pergi
Tiada kembali
......
Kaget ku di suatu waktu
Di malam yang buntu
Satu senyum menepuk kembali
Bahagia untukku entah dirinya
Pagar halaman menatap, dedaunan kuning bersiul
Debu lantai melotot, saling menatap terheran.
Sejak malam buntu.
Aku tahu
bersama senyum yang kembali
kebahagiaan terpancar
berganti senyum untuk ku.
Si senyuman malam
menunjukan senyumannya kembali.
Jelas bahagia untuk mu selalu
selamat jalan bagiku, selamat tinggal
Peluk bahagia, untukmu
Harap ku,
duhai engkau senyuman malam
Sokaraja,
6 Desember 2015
*Gambar dari horoscopes.lovetoknow.com
Jumat, 04 Maret 2016
Meninggalkan Tidur
Tidur telah menenggelamkan mimpiku
Kehidupan dan aroma perjuangan
Pagi hari ini tak memberi restu
Ia kecewa karena malam memabukkan
Bila tak ada debu menghampiri
Bisa saja aku mati hari ini
Dalam sepi
Dalam kelesuan diri
Debu ini berbau keringat pekerja
Di jalanan
Di perkantoran
Di tanah tanpa tuan
Ramai-ramai mencari penghidupan
atas karunia Tuhan.
Dalam doa mereka
Aku mendengarkan
Jelas dan ikhlas
Mengharap berkah semesta
memberi anak mereka waktu tamasya.
Seperti anak-anak orang kaya
Berkecukupan materi raga
Aku meninggalkan tidur
Meninggalkan kasur
Menemui mereka
Membantu mimpinya, wujudkan bahagia
Sokaraja
26 Januari 2016
--------------------
Semoga puisi ini bisa memberikan arti
*Pict from travel.detik.com
Kepada Matahari Aku Bersaksi
Pasir dan debu berjejeran
Berteriak tak karuan
Menyambut hujan
Berharap kedamaian
Matahari segera tenggelam
Ditelan awan mendung
Cakap-cakap manusia
Berirama berpidato kepada alam :
"Panas segera lenyap.
Jendela terik akan tertutup.
Gerah pergi dari sini."
Matahari,
maafkan cericau kosong mereka.
Aku pun juga manusia
salah diriku tak mampu gandeng mereka
Diantara rupa-rupa cara yang ada,
segelintir saja laksana.
Lainya pudar dalam pikiran
tetesan noda pun hilang tak bersisa.
Aku bersama kawan-kawan senada,
sulit benahi ini.
Gelombang keluhan muncul tak karuan.
Sementara proyek reklamasi, deforestasi,
industri tak ramah masa depan terus gerogoti bumi.
Sesal merajam hati
Mengapa bisa begini ??
Kepada matahari aku bersaksi
Kepada bumi aku menangisi diri
Sokaraja
29 Januari 2016
--------------------------
Semoga Puisi Ini Bisa Memberikan Arti
*Pict by kompas.com
Hancurkan Lalu Tanam
Kepada sesak dunia
Langit kelabu
Laut hitam
Hutan terbakar
Tanah kering
Manusia bebal tak peduli lingkungan
Wahai semesta manusia
Nuranimu masihkah ada ?
Belum cukupkah uangmu disaku ?
Sampai kapan ?
Sampai kau renggut segala yang ada
baru kau puas lantas tertawa diatasnya ?
Kau kuasai roda politik
tapi lupa limbah-limbah manusia bergelimpangan.
Kau pegang janji-janji ekonomi
tapi lupa kelaparan menganga lebar.
Sampai kapan ?.
Sampai mereka semua mati kemudian kau berdiri diatas mayatnya ?.
Lihatlah keluar
Lihatlah tempat dimana kau jauh tinggal
Bumi menangis
Meratapi manusia terbelenggu kepentingan golonganya, rasnya, sukunya, agamanya.
Bumi tak henti-hentinya terluka,
jikalau begini tak lekas berhenti.
Masadepan pun tak akan hidup lagi
Benih yang berguguran tak tumbuh lagi
Hanya satu jalan dapat dilewati
Segera hancurkan pikiran rakus dari hati
Kemudian bersama menyemai doa
tanam kesederhanaan diri
kehidupan selaras bumi
selaras alam
Sokaraja
29 Januari 2016
--------------------------
Semoga Puisi Ini Bisa Memberikan Arti
*Pict from ngulik.co
Langit kelabu
Laut hitam
Hutan terbakar
Tanah kering
Manusia bebal tak peduli lingkungan
Wahai semesta manusia
Nuranimu masihkah ada ?
Belum cukupkah uangmu disaku ?
Sampai kapan ?
Sampai kau renggut segala yang ada
baru kau puas lantas tertawa diatasnya ?
Kau kuasai roda politik
tapi lupa limbah-limbah manusia bergelimpangan.
Kau pegang janji-janji ekonomi
tapi lupa kelaparan menganga lebar.
Sampai kapan ?.
Sampai mereka semua mati kemudian kau berdiri diatas mayatnya ?.
Lihatlah keluar
Lihatlah tempat dimana kau jauh tinggal
Bumi menangis
Meratapi manusia terbelenggu kepentingan golonganya, rasnya, sukunya, agamanya.
Bumi tak henti-hentinya terluka,
jikalau begini tak lekas berhenti.
Masadepan pun tak akan hidup lagi
Benih yang berguguran tak tumbuh lagi
Hanya satu jalan dapat dilewati
Segera hancurkan pikiran rakus dari hati
Kemudian bersama menyemai doa
tanam kesederhanaan diri
kehidupan selaras bumi
selaras alam
Sokaraja
29 Januari 2016
--------------------------
Semoga Puisi Ini Bisa Memberikan Arti
*Pict from ngulik.co
Rabu, 02 Maret 2016
Sajak Ranu
Aku akan menjadi biru dan hijau
Membias dalam detik
Membayang disela-sela waktu
Menuju kerinduanku padamu Tuhanku
Lumut sampai rumput menyambutku
Berkemahkan sejuk cinta kasih
Hawa perbukitan begitu menyentuh
Kening kami satu-satu dikecup kabut
Memadamkan api dengki
Kemah berdiri diatas bumi ;
Suka cita menyembul
Hening malam menyatukan jiwa
Aku dan sekeliling raya
Menjadi keluarga
Dibawah cakrawala
Ranu Kumbolo
Rumah para bidadari dan malaikat bersuci
Ranu kumbolo
Rumah para pengembara rasa surgawi
Ranu kumbolo
Tetaplah jadi dirimu sendiri
Kami akan selalu disini
Kalian, jagalah rumah ini
Februari 2016
----------------
*Terinspirasi dari foto unggahan di media sosial Instagram
Semoga Puisi Ini Bisa Memberikan Arti
Maturnuwunn
Patung
Apa bisa diriku menjelma jadi manusia lalu bercinta. Merebahkan diri selepas terik mengucurkan keringat di kulit ?.
Telah kulihat begitu saja darah tumpah pada bumi. Pijakanku selama ini beratus-ratus hari. Tempat aku dan kau mencari hidup. Beribu tanaman lalu kau makan dan sisanya kau buang dan sirna di tengah lautan.
Dibawah lintang khatulistiwa aku bertapa menggelengkan kepala. Betapa sedih manusia digempur kemauan harta. Dunia dan segala isinya belumkah puas adanya.
Negeri satu hancur. Dihujani mesiu abu-abu lalu ledakan emosi tak terkendali. Nafsu binatang berada diatas kepala. Menelan hati tempat suci.
Untung bagi takdirku adalah patung. Objek penampakan tanpa nyawa dan diam membuatku perkasa oleh cuaca. Bahagia tak kurasa. Amarah tak ku landa.
Bila saja aku jadi manusia. Apa daya tanggungjawab bisa ku suguhkan.
Pada anak dan cucuku kelak.
Patung tak beristri dan beranak. Ia hanya sebuah replika dari zaman berharap Tuhan. Hingga Tuhan kini kembali ditiadakan dalam zaman. Oh..., zaman edan...
Sokaraja
Februari 2016
--------------------
Semoga Prosa Ini Bisa Memberikan Arti
Maturnuwun....
Langganan:
Postingan (Atom)


















